bagaikan biola geseklah aku ke nada nada termanisku
bagaikan biola kendurkanlah senar senarku sampai terlepas jatuh
dan geseklah aku, geseklah aku, dengan visa gold master card..
geseklah aku hingga beterbangan bunga api
geseklah aku hingga malam tersipu sipu
geseklah aku sampai tercatat berapa derajat selsius, dua desimal
di belakang koma suhu nafasmu
geseklah aku, hingga badak yang paling singa dalam diriku pun
jinak menjadi panda yang paling teddybear
geseklah aku melebihi gesekan perebutan kekuasaan elit politik!
geseklah aku sehingga jarum jam membeku, dan detaknya luruh hilang
(bersamanya kita lupakan sejenak kritik sosial, malam ini sosial sedang sudah lelah dikritik)
mari! sini! kugesek hingga ranggas semua dahan bertunas
hingga lepas segala cemas
larut mengerut lalu licin lembut laksana belut
yang liar mengobar debar dan lapar
yang cuma pudar dengan gerakan halilintar
pudar lapar-mu, tandus haus-mu, enyah dahaga-mu
geseklah akuuuu
kugesek kamuuuu
sampai-sampai seluruh jarum jam pun tak mampu menahan hentakannya sendiri
hingga serupa bingung yang hinggap
geseklah aku di setiap milimeter persegi permukaanku,
setiap dot per inch matrix pori poriku
mana rela aku membiarkan setiap titik..
mana rela aku mengacuhi setiap detik
sekalipun jarum jam membeku dan kini detik adalah nafas
napas yang merajut waktu, lalu kita seperti mengelupas
geseklah aku seraya aku memetakan geologi geografi dan topografi,
serta demografi segala perjalanan rasa rindumu yang membanjir meruap ruah
lalu orang mengira peta itu perlu dirayakan kejadiannya
dan dibuatlah acara launching-nya
menyaingi acara launching peta hijau yogyakarta
ah biarkan yogyakarta menari
malam ini yogyakarta tak ada dalam peta
yang ada hanya kau, menipis nisbikan malam
menggesek habis waktu dan ruang
tapi, ini belum malam, sayang…
cemburukah malam bila kita memulainya pada senja?
tatapmu menggesek pandanganku, menyisakan cahaya lamat di jendela,
yang aku tak pasti, apa itu bulan atau mentari, atau neon yang tak bermarka waktu
semua aku di matamu, semua aku di napasmu, semua aku di gairahmu
…. aku tersesat di rimbamu
ya! aku butuh pintu ‘tuk lalukan rindu
bumimu menjadi tropis, terpanggang kerinduan yang tertahan
maka runtuhkan dinding itu luapkan rindumu tanpa halang,
angin hanya terpejam di sini
rindumu bagai hujan tak tak terserap tanah gunung merapi,
meluap 80 senti di bukit turgo,
dalam enam jam akan membanjiri yogyakarta
dan sedetik lewat dari enam jam,
badai dahsyat meluluhlantakkan yogyakarta tanpa penat!
itulah
rinduku
rindumu
liku rindu
karena semua getar uratmu di mataku
gerak akar adalah gejolak purbamu di mataku
riak ombak adalah erangmu di telingaku
kelepak sayap unggas adalah irama hasratmu di rasaku
yang mengembalikan kita semua pada tatap dan hadap
kau sungai tempat pulang hewan buas yang terluka
menyingkirkan segala sisa kesumat dan serapah,
dan mengembalikan ku ke masa kanak,
membawaku pulang berlabuh di wilayah yang tak mengenal kemarin dan esok
kau datang menenteng luka berselimut peluh
yang letih meraja di inci tubuhmu
dan aku begitu merasa bertemu rindu
untuk membalurimu dengan alir tersejukku
membasuh lukamu dengan segala yang mengalir di riak-lembutku
mengompres lebammu dengan selendang salju dari puncak bukit itu
merendammu dalam pusaranku
dengan sebentuk kesumat hasrat yang memusat hingga benar-benar lekat
hingga kita tak pernah lagi mengenal ukuran
ibu segala bentuk dan jarak
Lalu debur yang ada sesudah itu tak bisa lain: kita yang meledak